Beranda / Kabar Ma'had / Asah Retorika Dakwah Tiga Baha...

Asah Retorika Dakwah Tiga Bahasa, Muhadharah Ma'had IAIN Ternate Sisipkan Pesan Kepemimpinan Nabi Ibrahim AS

Media Mahad 14 May 2026
Ternate - Ma'had Al-Jami'ah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate kembali menyelenggarakan agenda rutin Muhadharah Usbuiyyah di Masjid Darussalam Kampus IAIN Ternate, Selasa (12/5/2026) malam. Berlangsung seusai salat Isya berjemaah, forum akademik dan keagamaan ini menjadi kawah candradimuka bagi para mahasantri dalam melatih kemampuan berbicara di depan umum sekaligus memperdalam pemahaman nilai-nilai dakwah keislaman.

Rangkaian kegiatan yang dipandu oleh Bidin Libahongi dari Program Studi Hukum Keluarga Islam (HKI) ini diawali dengan suasana yang penuh khidmat. Nuansa religius terbangun melalui lantunan ayat suci Al-Qur'an oleh M. Rafly Boke (Program Studi Pendidikan Agama Islam/PAI), dan dilanjutkan dengan sari tilawah secara lugas oleh Sahrian Abdullah (Program Studi HKI). Pembacaan kalam ilahi tersebut menjadi munajat pembuka demi keberkahan, ketenangan, dan kelancaran jalannya acara.

Memasuki agenda inti, mimbar muhadharah menghadirkan enam mahasantri dan mahasantriwati yang berorasi dalam tiga bahasa secara bergantian. Pidato berbahasa Indonesia dibawakan dengan apik oleh Dahlan dari Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) berserta Divana dari Program Studi PAI. Penampilan ini menjadi suguhan awal yang memikat perhatian para audiens yang memadati area masjid.

Ketangkasan retorika internasional kemudian ditunjukkan melalui sesi pidato bahasa Inggris oleh Naisya dan Taufik, yang keduanya merupakan delegasi dari Program Studi PAI. Sesi orasi ini kemudian ditutup dengan penuh wibawa melalui pidato berbahasa Arab yang dilantunkan secara fasih oleh Rifaldi (PAI) dan Eka Devianti dari Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam.

Selepas unjuk kebolehan para orator, Pembina Ma'had IAIN Ternate, Ustadz Irfan, memberikan ta'liq atau catatan evaluasi komprehensif. Ia menekankan bahwa muhadharah bukan sekadar rutinitas atau kewajiban untuk sekadar tampil hingga usai, melainkan tolok ukur nyata dari keseriusan berlatih selama sepekan. Momentum ini, tegasnya, adalah langkah simulasi awal sebelum para mahasantri benar-benar terjun untuk mendedikasikan ilmunya di tengah dinamika masyarakat.

Lebih jauh, Ustadz Irfan turut menyampaikan mau'izhatul hasanah yang mengangkat kisah keteladanan Nabi Ibrahim AS sebagai cerminan qashashul qur'an. Terdapat lima pesan fundamental yang dititipkan kepada mahasantri: pertama, pemimpin masa depan wajib mau mendengar pendapat orang lain dan tidak bertindak otoriter; kedua, tidak berlebihan dalam mencintai gemerlap dunia; ketiga, melatih keikhlasan agar terhindar dari tekanan beban tugas; keempat, memiliki mental baja saat berhadapan dengan publik; serta kelima, membuktikan setiap ilmu melalui aksi nyata.

Acara malam itu kemudian dirangkaikan dengan apresiasi kedisiplinan melalui pengumuman kamar terbersih oleh Musyrifah, Kak Uswa. Predikat kamar terbersih ma'had putra jatuh kepada Kamar 12, sementara Kamar 15 dan 16 menyabet predikat serupa untuk ma'had putri. Rangkaian Muhadharah Usbuiyyah akhirnya diparipurnakan dengan harmonisasi qasidah yang dipimpin oleh munsyid Siti Nadzira dan Divana, membawa kehangatan malam yang berpadu dengan tabuhan alat musik ritmis yang syahdu.

Reporter : Rudi I Abd. Hadji
Bagikan Berita Ini: