Mengasah Lidah, Membangun Jiwa: Muhadharah Usbu'iyyah Ma'had Al-Jami'ah IAIN Ternate Kembali Hidupkan Selasa Malam
Admin Mahad
22 May 2026
TERNATE - Selasa malam bukan malam biasa di Masjid Darussalam Kampus IAIN Ternate. Di sinilah, setiap pekan, para mahasantri Ma'had Al-Jami'ah IAIN Ternate berkumpul bukan untuk mendengar, melainkan untuk tampil. Bukan untuk diam, melainkan untuk berbicara. Muhadharah Usbu'iyyah kembali digelar pada Selasa malam, 19 Mei 2026, membawa serta semangat dan keberanian yang selalu menjadi ciri khas agenda mingguan ini.
Kegiatan dipandu oleh Sarifa Amin selaku pembawa acara yang memimpin jalannya malam dengan tertib dan penuh percaya diri. Rangkaian acara dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dialunkan dengan merdu dan penuh penghayatan oleh Jumaya Mahdi, mahasantri Program Studi Pendidikan Agama Islam. Suasana khidmat semakin terasa ketika Siti Fatimah dari Program Studi Perbankan Syariah menyampaikan sari tilawah dengan tutur kata yang lugas, jelas, dan mudah dipahami seluruh hadirin.
Memasuki sesi utama, enam mahasantri tampil satu per satu membawakan pidato dalam tiga bahasa, menunjukkan bahwa batas bahasa bukan halangan bagi mereka yang telah menempa diri di pesantren kampus ini.
Sesi Bahasa Indonesia dibuka oleh Sahrian Abdullah dari Program Studi Hukum Keluarga Islam. Dengan penyampaian yang fasih dan penuh keyakinan, ia mengajak seluruh mahasantri untuk menjauhi perzinaan sebagai salah satu perbuatan yang paling merugikan diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Tampil berikutnya, Dwi Mahika dari Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam membawakan pidato bertajuk "Sabar dan Ikhlas Merupakan Nilai Kesuksesan dan Ketenangan Hati." Dengan bahasa yang hangat namun mengena, ia mengajak seluruh hadirin untuk menjadikan sabar dan ikhlas sebagai dua pilar utama dalam menjalani kehidupan demi meraih ketenangan sejati dan kesuksesan yang bermakna.
Sesi Bahasa Inggris kemudian menghadirkan Rifaldi Landiidi dari Program Studi Pendidikan Agama Islam dan Siti Alini dari Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam. Keduanya tampil dengan baik dan percaya diri, menuai tepuk tangan meriah dari seluruh mahasantri yang hadir sebagai bentuk apresiasi atas keberanian dan kualitas penampilan mereka.
Adapun puncak antusiasme malam itu tertuju pada sesi Bahasa Arab. Nadia Kamil dari Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, yang dikenal luas sebagai salah satu mahasantri favorit, tampil dengan penuh keyakinan dan kematangan. Penampilannya berhasil memukau seluruh hadirin sekaligus menghidupkan suasana masjid yang dari tadi sudah dipenuhi semangat. Menutup sesi bahasa Arab, Sarudin hadir dengan intonasi yang kuat dan gaya penyampaian yang matang, sebuah penampilan yang tak jarang mendapat pujian langsung dari Ustadz Rahman selaku pembina.
Usai sesi pidato, Ustadz Rahman menyampaikan ta'liq atau evaluasi menyeluruh terhadap penampilan para mahasantri. Beliau memberikan catatan dari sisi penampilan fisik, di antaranya anjuran bagi santri putra untuk senantiasa mengenakan sarung dalam kegiatan Ma'had, serta keseragaman busana bagi santri putri sebagai cerminan identitas dan adab seorang mahasantri. Lebih jauh, beliau menekankan pentingnya totalitas dalam setiap penampilan dengan pesan yang dalam, "Anggaplah penampilan hari ini adalah penampilan terakhirmu."
Ustadz Rahman turut menyampaikan sebuah ungkapan penuh hikmah yang menjadi renungan bersama, "Berbicaralah, agar aku mengenalmu." Pesan ini menjadi pengingat bahwa kemampuan berbicara dengan baik adalah cermin kepribadian sekaligus pintu pertama dunia mengenal seseorang. Melalui berbagai analogi yang inspiratif, beliau menjelaskan betapa besar kontribusi Ma'had dalam membentuk karakter, ketajaman berpikir, dan kepercayaan diri mahasantri. Sesi arahan beliau ditutup dengan sebuah pesan yang tegas dan membakar semangat, "Tunjukkanlah talenta kalian dan sebarkanlah, agar dunia mengenal kalian."
Tepat pukul 21.12 WIT, pembawa acara secara resmi menutup sesi inti Muhadharah Usbu'iyyah malam itu. Sebagai penutup yang selalu dinantikan, kak Rudi selaku muysrif menyampaikan evaluasi kebersihan kamar atau yang akrab disebut "surat cinta dari Ustadzah Ain" kepada seluruh mahasantri. Pada Ma'had Putra, kamar 12, 13, dan 39 berhasil meraih predikat kamar terbersih. Sementara pada Ma'had Putri, penghargaan serupa diraih oleh kamar 01, 09, dan 10. Adapun kamar 03 mendapatkan catatan khusus sebagai kamar yang masih memerlukan peningkatan dalam hal kerapian dan kebersihan.
Muhadharah Usbu'iyyah bukan sekadar agenda rutin. Ia adalah ruang tempat keberanian dilatih, lidah diasah, dan karakter dibentuk, minggu demi minggu, hingga setiap mahasantri tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cakap secara akademis, tetapi juga siap tampil dan dikenal oleh dunia.
Reporter: naisyah, jumaya,nadin
Kegiatan dipandu oleh Sarifa Amin selaku pembawa acara yang memimpin jalannya malam dengan tertib dan penuh percaya diri. Rangkaian acara dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dialunkan dengan merdu dan penuh penghayatan oleh Jumaya Mahdi, mahasantri Program Studi Pendidikan Agama Islam. Suasana khidmat semakin terasa ketika Siti Fatimah dari Program Studi Perbankan Syariah menyampaikan sari tilawah dengan tutur kata yang lugas, jelas, dan mudah dipahami seluruh hadirin.
Memasuki sesi utama, enam mahasantri tampil satu per satu membawakan pidato dalam tiga bahasa, menunjukkan bahwa batas bahasa bukan halangan bagi mereka yang telah menempa diri di pesantren kampus ini.
Sesi Bahasa Indonesia dibuka oleh Sahrian Abdullah dari Program Studi Hukum Keluarga Islam. Dengan penyampaian yang fasih dan penuh keyakinan, ia mengajak seluruh mahasantri untuk menjauhi perzinaan sebagai salah satu perbuatan yang paling merugikan diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Tampil berikutnya, Dwi Mahika dari Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam membawakan pidato bertajuk "Sabar dan Ikhlas Merupakan Nilai Kesuksesan dan Ketenangan Hati." Dengan bahasa yang hangat namun mengena, ia mengajak seluruh hadirin untuk menjadikan sabar dan ikhlas sebagai dua pilar utama dalam menjalani kehidupan demi meraih ketenangan sejati dan kesuksesan yang bermakna.
Sesi Bahasa Inggris kemudian menghadirkan Rifaldi Landiidi dari Program Studi Pendidikan Agama Islam dan Siti Alini dari Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam. Keduanya tampil dengan baik dan percaya diri, menuai tepuk tangan meriah dari seluruh mahasantri yang hadir sebagai bentuk apresiasi atas keberanian dan kualitas penampilan mereka.
Adapun puncak antusiasme malam itu tertuju pada sesi Bahasa Arab. Nadia Kamil dari Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, yang dikenal luas sebagai salah satu mahasantri favorit, tampil dengan penuh keyakinan dan kematangan. Penampilannya berhasil memukau seluruh hadirin sekaligus menghidupkan suasana masjid yang dari tadi sudah dipenuhi semangat. Menutup sesi bahasa Arab, Sarudin hadir dengan intonasi yang kuat dan gaya penyampaian yang matang, sebuah penampilan yang tak jarang mendapat pujian langsung dari Ustadz Rahman selaku pembina.
Usai sesi pidato, Ustadz Rahman menyampaikan ta'liq atau evaluasi menyeluruh terhadap penampilan para mahasantri. Beliau memberikan catatan dari sisi penampilan fisik, di antaranya anjuran bagi santri putra untuk senantiasa mengenakan sarung dalam kegiatan Ma'had, serta keseragaman busana bagi santri putri sebagai cerminan identitas dan adab seorang mahasantri. Lebih jauh, beliau menekankan pentingnya totalitas dalam setiap penampilan dengan pesan yang dalam, "Anggaplah penampilan hari ini adalah penampilan terakhirmu."
Ustadz Rahman turut menyampaikan sebuah ungkapan penuh hikmah yang menjadi renungan bersama, "Berbicaralah, agar aku mengenalmu." Pesan ini menjadi pengingat bahwa kemampuan berbicara dengan baik adalah cermin kepribadian sekaligus pintu pertama dunia mengenal seseorang. Melalui berbagai analogi yang inspiratif, beliau menjelaskan betapa besar kontribusi Ma'had dalam membentuk karakter, ketajaman berpikir, dan kepercayaan diri mahasantri. Sesi arahan beliau ditutup dengan sebuah pesan yang tegas dan membakar semangat, "Tunjukkanlah talenta kalian dan sebarkanlah, agar dunia mengenal kalian."
Tepat pukul 21.12 WIT, pembawa acara secara resmi menutup sesi inti Muhadharah Usbu'iyyah malam itu. Sebagai penutup yang selalu dinantikan, kak Rudi selaku muysrif menyampaikan evaluasi kebersihan kamar atau yang akrab disebut "surat cinta dari Ustadzah Ain" kepada seluruh mahasantri. Pada Ma'had Putra, kamar 12, 13, dan 39 berhasil meraih predikat kamar terbersih. Sementara pada Ma'had Putri, penghargaan serupa diraih oleh kamar 01, 09, dan 10. Adapun kamar 03 mendapatkan catatan khusus sebagai kamar yang masih memerlukan peningkatan dalam hal kerapian dan kebersihan.
Muhadharah Usbu'iyyah bukan sekadar agenda rutin. Ia adalah ruang tempat keberanian dilatih, lidah diasah, dan karakter dibentuk, minggu demi minggu, hingga setiap mahasantri tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cakap secara akademis, tetapi juga siap tampil dan dikenal oleh dunia.
Reporter: naisyah, jumaya,nadin
Kabar Terbaru
"Tiga Bahasa, Satu Pesan: Muhadharah Usbu'iyyah Ma'had Al-Jami'ah Ajak Mahasantri Jaga Lisan dan Perbanyak Taubat
21 hours ago
Suara Merdu Mahasantri Ma'had Al-Jami'ah Pukau Sesdirjen Pendis dan Para Pejabat di Raker IAIN Ternate
5 days ago
Bergerak Cepat, Satu Hari Setelah Bertemu Menteri Agama, Rektor IAIN Ternate Kantongi Surat Permohonan Afirmasi dari Ditjen Pendis
3 weeks ago