Antara Toga dan Maut: Jalan Sri Menuju Surga
Admin Mahad
20 June 2026
Setiap kita memiliki jalan dan perjuangan yang berbeda untuk sampai pada tujuan masing-masing. Begitu pula dengan Sri.
Dia adalah seorang anak yang cerdas, terlahir dari keluarga yang sederhana. Hanya anak dari orang tua yang pekerjaannya begitu mulia, seorang petani. Namun keterbatasan ekonomi keluarga tidak pernah menghentikan mimpinya. Pada tahun 2024, dia memutuskan merantau ke Kota Ternate, kota pendidikan yang jaraknya dari kampung halamannya harus ditempuh selama tiga hari tiga malam. Semua itu dia lakukan dengan satu tujuan: berkuliah, menuntut ilmu, membanggakan orang tuanya, dan membuktikan kepada mereka yang pernah meremehkan mimpinya.
Beberapa bulan setelah kuliah, hasil seleksi KIP-Kuliah diumumkan, dan Alhamdulillah, Sri lolos. Dia juga mengikuti seleksi masuk asrama kampus, Ma'had Al-Jami'ah IAIN Ternate, dan kembali dinyatakan lolos. Dari sinilah kisahnya bersama kami dimulai. Di mahad, dia menemukan banyak saudara baru, baik dari teman asrama maupun teman kampus, orang-orang yang selalu ada untuknya, terutama di saat dia sakit.
Hari-harinya dijalani penuh semangat. Semangat kuliah, semangat mengikuti kajian di mahad. Namun tiba suatu masa ketika tubuhnya tidak lagi kuat menahan rasa sakit. Teman-teman asramanya akhirnya membawanya ke rumah sakit untuk diperiksa. Dengan sepeda motor yang dipinjamkan oleh pembina mahad, kami mengantarnya. Hasil pemeriksaan menyatakan bahwa dia mengidap Lupus, penyakit autoimun yang juga berkomplikasi dengan ginjalnya. Sri telah mengidap lupus sejak duduk di bangku sekolah dasar, dan penyakit itu memburuk justru ketika dia berada di semester dua perkuliahannya.
Namun penyakit itu tidak pernah menjadi penghalang baginya untuk bermimpi. Dia tetap berpendirian untuk melanjutkan pendidikannya di IAIN Ternate, dengan satu harapan sederhana: bisa menyelesaikan kuliahnya. Rumah Sakit Chasan Boesoirie menjadi tempatnya berulang kali beristirahat dan berjuang. Namun, sekian kali keluar masuk rumah sakit, dia tidak pernah sekali pun mengeluh, sampai membuat saya kagum dan bertanya.
"Kenapa Sri nekat untuk kuliah, padahal kan Sri masih sakit?"
"Karena Sri mau buktikan sama orang yang meremehkan keluarga Sri, Kaka. Dorang seng mau lihat Sri dan Sri pe kakak-kakak yang lain sukses," jawabnya.
Lalu saya bertanya lagi, "Kenapa Sri tidak pindah ke Ambon saja, supaya Sri dekat dengan keluarga?"
"Karena Sri seng mau ulang dari semester awal, Kaka. Disini Sri so dapat KIP-Kuliah, kalau Sri pindah, KIP Sri akan dicabut," jawabnya lagi.
Demi mempertahankan KIP-nya, dia rela menahan sakit di tanah orang, jauh dari keluarga. Berjalan tertatih-tatih menahan rasa sakit, namun tetap berangkat ke kampus untuk mengikuti perkuliahan, tanpa sedikit pun rasa mengeluh.
Ada satu momen yang membuat saya, sebagai penulis, begitu kagum dengan kekuatan almarhumah. Saat dia masuk rumah sakit untuk ketiga kalinya, pada suatu siang pukul 14.04, saya melihatnya terbaring sendiri tanpa siapa pun di sampingnya. Teman-teman yang biasa menemaninya sedang mengikuti mata kuliah, sementara keluarganya masih dalam perjalanan dari kampung menuju Ternate. Namun dia tidak pernah mengeluhkan keadaannya. Dia tetap tersenyum.
Hingga akhirnya, pada 14 Juni 2026, dia kembali masuk rumah sakit untuk yang terakhir kalinya, sampai menghembuskan napas terakhirnya pada 19 Juni 2026, hanya beberapa hari setelah hari kelahirannya pada 5 Juni, di usia 21 tahun.
Perjuanganmu luar biasa, Sri. Semoga surga menjadi tempatmu kembali kepada Allah, dalam keadaan sedang menuntut ilmu. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, "Barangsiapa yang datang kepadanya kematian dalam keadaan sedang menuntut ilmu untuk menghidupkan Islam, maka antara dia dan para nabi hanya selisih satu derajat di surga." (HR. Ad-Darimi)
Penulis: Lia Aliyanti, Musyrifah Angkatan 2024
Dia adalah seorang anak yang cerdas, terlahir dari keluarga yang sederhana. Hanya anak dari orang tua yang pekerjaannya begitu mulia, seorang petani. Namun keterbatasan ekonomi keluarga tidak pernah menghentikan mimpinya. Pada tahun 2024, dia memutuskan merantau ke Kota Ternate, kota pendidikan yang jaraknya dari kampung halamannya harus ditempuh selama tiga hari tiga malam. Semua itu dia lakukan dengan satu tujuan: berkuliah, menuntut ilmu, membanggakan orang tuanya, dan membuktikan kepada mereka yang pernah meremehkan mimpinya.
Beberapa bulan setelah kuliah, hasil seleksi KIP-Kuliah diumumkan, dan Alhamdulillah, Sri lolos. Dia juga mengikuti seleksi masuk asrama kampus, Ma'had Al-Jami'ah IAIN Ternate, dan kembali dinyatakan lolos. Dari sinilah kisahnya bersama kami dimulai. Di mahad, dia menemukan banyak saudara baru, baik dari teman asrama maupun teman kampus, orang-orang yang selalu ada untuknya, terutama di saat dia sakit.
Hari-harinya dijalani penuh semangat. Semangat kuliah, semangat mengikuti kajian di mahad. Namun tiba suatu masa ketika tubuhnya tidak lagi kuat menahan rasa sakit. Teman-teman asramanya akhirnya membawanya ke rumah sakit untuk diperiksa. Dengan sepeda motor yang dipinjamkan oleh pembina mahad, kami mengantarnya. Hasil pemeriksaan menyatakan bahwa dia mengidap Lupus, penyakit autoimun yang juga berkomplikasi dengan ginjalnya. Sri telah mengidap lupus sejak duduk di bangku sekolah dasar, dan penyakit itu memburuk justru ketika dia berada di semester dua perkuliahannya.
Namun penyakit itu tidak pernah menjadi penghalang baginya untuk bermimpi. Dia tetap berpendirian untuk melanjutkan pendidikannya di IAIN Ternate, dengan satu harapan sederhana: bisa menyelesaikan kuliahnya. Rumah Sakit Chasan Boesoirie menjadi tempatnya berulang kali beristirahat dan berjuang. Namun, sekian kali keluar masuk rumah sakit, dia tidak pernah sekali pun mengeluh, sampai membuat saya kagum dan bertanya.
"Kenapa Sri nekat untuk kuliah, padahal kan Sri masih sakit?"
"Karena Sri mau buktikan sama orang yang meremehkan keluarga Sri, Kaka. Dorang seng mau lihat Sri dan Sri pe kakak-kakak yang lain sukses," jawabnya.
Lalu saya bertanya lagi, "Kenapa Sri tidak pindah ke Ambon saja, supaya Sri dekat dengan keluarga?"
"Karena Sri seng mau ulang dari semester awal, Kaka. Disini Sri so dapat KIP-Kuliah, kalau Sri pindah, KIP Sri akan dicabut," jawabnya lagi.
Demi mempertahankan KIP-nya, dia rela menahan sakit di tanah orang, jauh dari keluarga. Berjalan tertatih-tatih menahan rasa sakit, namun tetap berangkat ke kampus untuk mengikuti perkuliahan, tanpa sedikit pun rasa mengeluh.
Ada satu momen yang membuat saya, sebagai penulis, begitu kagum dengan kekuatan almarhumah. Saat dia masuk rumah sakit untuk ketiga kalinya, pada suatu siang pukul 14.04, saya melihatnya terbaring sendiri tanpa siapa pun di sampingnya. Teman-teman yang biasa menemaninya sedang mengikuti mata kuliah, sementara keluarganya masih dalam perjalanan dari kampung menuju Ternate. Namun dia tidak pernah mengeluhkan keadaannya. Dia tetap tersenyum.
Hingga akhirnya, pada 14 Juni 2026, dia kembali masuk rumah sakit untuk yang terakhir kalinya, sampai menghembuskan napas terakhirnya pada 19 Juni 2026, hanya beberapa hari setelah hari kelahirannya pada 5 Juni, di usia 21 tahun.
Perjuanganmu luar biasa, Sri. Semoga surga menjadi tempatmu kembali kepada Allah, dalam keadaan sedang menuntut ilmu. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, "Barangsiapa yang datang kepadanya kematian dalam keadaan sedang menuntut ilmu untuk menghidupkan Islam, maka antara dia dan para nabi hanya selisih satu derajat di surga." (HR. Ad-Darimi)
Penulis: Lia Aliyanti, Musyrifah Angkatan 2024
Kabar Terbaru
Ma'had Al-Jami'ah IAIN Ternate Perkuat Dokumen ISO 21001:2025, Rumuskan Visi-Misi Baru
3 weeks ago
"Tiga Bahasa, Satu Pesan: Muhadharah Usbu'iyyah Ma'had Al-Jami'ah Ajak Mahasantri Jaga Lisan dan Perbanyak Taubat
1 month ago
Suara Merdu Mahasantri Ma'had Al-Jami'ah Pukau Sesdirjen Pendis dan Para Pejabat di Raker IAIN Ternate
1 month ago