Beranda / Kabar Ma'had / Cepat tapi Tidak Instan, Ini T...

Cepat tapi Tidak Instan, Ini Tujuh Kunci Mengajar Al-Qur’an dengan Metode Qiro’ah

Admin Mahad 17 Oktober 2026
Ternate — Belajar membaca Al-Qur’an bisa cepat, tetapi tidak boleh instan. Prinsip itu menjadi benang merah Workshop Pembelajaran Membaca Al-Qur’an Berbasis Metode Qiro’ah yang digelar di Aula MTsN 1 Kota Ternate, Jumat (16/10/2026).

Workshop ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri 2026. Kegiatan tersebut terselenggara atas kerja sama Kanwil Kemenag Maluku Utara, PWNU Maluku Utara, IAIN Ternate, LPQ Bustanul Qiro’ah, dan Jurnal Tarogau, dengan peserta para guru PAI madrasah se-Maluku Utara.

Dalam sambutannya, Kepala Bidang Pendidikan Islam Kanwil Kemenag Malut, H. Yamin Latief Tjokra, S.HI., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan program Bidang Pendis untuk menyambut Hari Santri. Kepala Kanwil Kemenag Maluku Utara, Drs. H. Amar Manaf, M.Si., yang membuka workshop menegaskan bahwa kemampuan mengaji adalah fondasi bagi anak madrasah. Ukurannya adalah fasih, mampu membedakan bunyi huruf seperti alif dan ‘ain, serta menguasai tajwid dasar. Hal itu juga menjadi salah satu sasaran Gerakan Literasi Madrasah (Galatama) yang digulirkan Kanwil.

Materi utama dibawakan oleh Dr. KH. Muhammad Amri, Lc., M.Th.I., yang juga Wakil Dekan III FUAD IAIN Ternate. Keluarga besar Ma’had Al-Jami’ah IAIN Ternate tentu mengenal sosok ini dengan baik, sebab KH. Muhammad Amri pernah mengemban amanah sebagai Mudir Ma’had Al-Jami’ah pada 2017–2022.

Sebelum masuk ke metode, KH. Muhammad Amri mengajak peserta menyamakan tujuan lebih dulu. Seorang santri dianggap berhasil belajar membaca Al-Qur’an jika menguasai empat hal: huruf hijaiyah, tanda baca, perubahan bentuk huruf saat bersambung, dan dasar ilmu tajwid. Untuk sampai ke sana, metode Qiro’ah menawarkan pendekatan yang menurutnya cepat tetapi tidak instan, mudah, menyenangkan, dan komplit. Ia tidak sekadar berteori, karena metode ini sudah ia praktikkan sendiri untuk mengajar keluarganya.

Kunci keberhasilannya terletak pada tujuh langkah yang ia uraikan berurutan: materi dipahami, ditunjuk, dituntun, diulangi, diuji, diperlancar, dan dipindahkan. Tujuh langkah berawalan “di-” ini dikenal sebagai pola 7D, salah satu pola dasar penerapan metode Qiro’ah.

Yang membuat metode ini menarik, pembelajarannya memakai jum-jum, sebutan masyarakat Maluku Utara untuk alat tunjuk mengaji berupa batang kecil. Dengan alat ini, santri menunjuk huruf demi huruf saat membaca sehingga perhatiannya terpusat pada huruf yang sedang dilafalkan. Selain membantu memfokuskan bacaan, alat tunjuk juga menjadi bentuk penghormatan terhadap mushaf, karena menunjuk ayat dengan jari dianggap kurang hormat.

Metode Qiro’ah sendiri lahir dari Makassar dan bersumber dari Buku Qiro’ah karya Andi Suriadi. Metode ini mengusung pendekatan Cara Belajar Santri Super Aktif (CBSSA), dan bukunya dilengkapi ilmu tajwid. Perbedaannya dengan metode lain terlihat dari sistem yang dipakai. Baghdadiyah mengandalkan sistem mengeja, Iqra’ sistem menyicil, dan Al-Barqi pola kata, sedangkan Qiro’ah bertumpu pada sistem gambar.

Dari konsep, peserta lalu diajak ke praktik bersama Dr. Agustang K., S.Pd.I., M.Pd.I., pemateri kedua yang juga Koordinator Prodi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) FTIK IAIN Ternate. Ustaz Agustang menekankan satu prinsip penting: santri diajak membaca, bukan menghafal. Ia kemudian menunjukkan cara memakai buku dan kartu kontrol, serta kunci-kunci metode Qiro’ah.

Penjelasan itu langsung ia contohkan di depan peserta. Para guru yang biasanya mengajar kini duduk sebagai santri. Mereka mengikuti contoh bacaan pemateri dan mengulanginya bersama-sama, hingga suara mereka memenuhi aula.

Sesi tanya jawab banyak diisi cerita tentang kendala para guru di kelas. KH. Muhammad Amri, yang juga Imam Masjid Al-Munawwar Ternate, menjawab dengan kiat-kiat praktis dan mengingatkan pentingnya buku kontrol untuk memantau perkembangan setiap santri. Ia pun menitipkan satu tantangan kepada peserta: carilah satu orang pertama yang mau diajari metode Qiro’ah.

Ustaz Agustang, yang mendirikan LPQ Bustanul Qiro’ah bersama istrinya, Ustazah Dr. Sugirma, S.Pd.I., M.Pd.I., menambahkan bahwa mengajar Al-Qur’an juga membutuhkan seni. Menurutnya, tidak ada metode yang sempurna, karena setiap metode punya kelebihan dan kekurangan. Guru yang baik adalah guru yang mampu memilih sisi yang paling cocok untuk muridnya.

Workshop ditutup oleh moderator, Dr. Agus, S.Pd.I., M.Pd.I., yang juga Ketua Program Studi Doktor Studi Islam IAIN Ternate. Ustaz Agus membagikan post-test kepada peserta, dan acara diakhiri dengan foto bersama.

Tantangan “satu orang pertama” dari KH. Muhammad Amri sejalan dengan hadis yang terpampang di slide penutup materi, khairukum man ta’allamal Qur’ana wa ‘allamahu: sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya. Belajar lebih dulu, lalu mengajarkan.

Langkah belajar itulah yang dirawat Ma’had Al-Jami’ah IAIN Ternate, lembaga yang pernah dipimpin KH. Muhammad Amri. Di Ma’had, ta’lim Al-Qur’an menjadi program wajib, dengan target mahasantri hafal Juz 30 dan Hadis Arbain, serta fasih berbahasa Arab dan Inggris.

Bagi mahasiswa baru IAIN Ternate yang ingin memperbaiki bacaan Al-Qur’an, dan kelak mungkin akan mengajarkannya kepada orang lain, pintu Ma’had terbuka. Pendaftaran mahasantri dapat dilakukan melalui https://mahad.iain-ternate.ac.id/daftar dengan menyiapkan NIM, pas foto formal, serta kartu BPJS Kesehatan atau KTP.

Reporter : Rudi
Bagikan Berita Ini: